Senin, 26 Mei 2014

KETIKA CINTA BERBUAH DILEMA


Suatu hari Fatimah binti Rasulullah Saw, berkata kepada Sayidina Ali,
suaminya. "Wahai kekasihku, sesunguhnya aku pernah menyukai seorang pemuda ketika aku masih gadis dulu." "O ya," tanggap Sayidina Ali dengan wajah sedikit memerah. "Siapakah lelaki terhormat itu, dinda?" "Lelaki itu adalah engkau, sayangku," jawabnya sambil tersipu, membuat sayidina Ali tersenyum dan semakin mencintai isterinya.
Percakapan romantis Siti Fatimah dengan Sayidina Ali di atas mungkin sudah menjadi hal biasa bagi para suami isteri. Tetapi tidak bagi mereka yang belum menikah. Percakapan-percakapan romantis yang sering ditemukan dalam buku-buku pernikahan itu sungguh sangat imajinatif bagi para lajang yang sudah merindukan pernikahan, sekaligus juga misteri, apakah ia bisa seromantis Siti Fatimah dan Sayidina Ali?
Alangkah bahagianya, seorang pemuda yang sejak lama memimpikan obrolan-obrolan romantis akhirnya sampai di terminal harapan, sebuah pernikahan suci. Apa yang selama

ini menjadi imajinasinya saat itu akan ia ungkapkan kepada isterinya. "Wahai kekasihku, ada satu kata yang dari dulu terpenjara di hatiku dan ingin sekali kukatakan kepadamu, aku mencintaimu."
Tetapi, kebahagiaan ini hanya milik mereka yang telah dikaruniai kemampuan untuk mengikat perjanjian yang berat (mitsaqan ghalidha), pernikahan itu. Bagi mereka yang masih harus melajang, semuanya masih hanya mimpi yang terus menggoda.
Terkadang, ada pemuda yang tidak kuat melawan godaan imajinasinya. Keinginan untuk mengungkapkan cinta itu tiba-tiba sangat besar sekali. Tetapi kepada siapa perasaan itu harus diungkapkan? Sementara isteri belum punya, kekasih pun tidak ada. Karena kata pacaran sudah lama dihapus dalam kamus remajanya. Tapi, dorongan itu begitu besar, begitu dahsyat.
Awalnya, kuat. Sampai tibalah sebuah perjumpaan. Sebuah rapat koordinasi di organisasi kemahasiswaan atau dalam tugas kelompok dari sekolah telah mempertemukan dua pesona. Imajinasi itu kembali menari-nari. "Nampaknya, dibalik jilbabnya yang rapi ia adalah gadis yang kuimpikan selama ini." "Oh, ketegasannya sesuai dengan penampilannya yang kalem, dia mungkin yang kuharapkan." Dan cinta itu hadir.
Tetapi, sudahkah saatnya cinta itu diucapkan? Padahal mengikat perjanjian yang berat belum sanggup dilakukan. Lalu apa yang harus dilakukan ketika dorongan untuk mengatakan perasaan semkain besar, teramat besar? Hingga perjumpaan dengannya jadi begitu mengasyikkan; menerima sms-nya menjadi kebahagiaan; berbincang dengannya menjadi kenikmatan; berpisah dengannya menjadi sebuah keberatan; ketidakhadirannya adalah rasa kehilangan.
Indah. Tapi ini adalah musibah! Interaksi muslim dan muslimah yang semakin longgar telah menggiring mereka kepada dua dinding dilema yang semakin menyempit dan begitu menekan. Cinta terlanjur hadir. Meski indah tapi bermasalah. Mau menikah, persiapan belum cukup atau kondisi belum mendukung. Menunggu pernikahan, seminggu saja serasa setahun. Melepaskan dan memutuskan komunikasi, cinta terlanjur bersemi. Menjalani interaksi seperti biasa, semuanya membuat hati semakin merasa bersalah.

Apa yang bisa dijadikan solusi? Jawabannya akan sangat panjang lebar jika yang dijadikan landasan adalah realita dan logika. Tetapi, marilah kita bicara dengan nurani dan keimanan, agar semua bisa terselesaikan dengan cepat dan tuntas.
Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya? Masihkah memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor satu dan satu-satunya? Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa mengeliminir cinta kepada seseorang yang telah menjauhkan dari keridhaan-Nya. Cinta macam apa yang menjauhkan diri dari keridhaan Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnya membuahkan benci Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya?
Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah ataukah "dia"?
"Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!" (al-Hadits)
Wallahu a'lam.

Minggu, 25 Mei 2014

Asma' binti Abu Bakar

Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
----------

Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
Suatu waktu, ketika Rasullah saw. dengan Abu Bakar r.a. telah memerintah Zaid r.a. dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.

Asma, r.ha. berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma r.ha. – lahirlah putra pertamanyam yakni Abdullah bin Zubair r.a.

Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya.

Dalam sebuah riwayat dari Bukhari dicertakan bahwa Asma’ r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,“Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. AKulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebtu. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.

Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhada Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.”

Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ r.ha., memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.

Ketika Abu Bakar ash-shidiq r.a. berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah saw. Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar r.a. yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma r.ha. dan Aisyah r.ha. agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, “Aku telah menduga bahwa Abu Bakar r.a. telah menyebabkalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian.”

Menanggapi perkataan kakeknya, Asma r.ha. berkata, “Tidak, tidak, wahai kakek. Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami.” Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya untuk merabanya. Kakeknya mengira bahwa kerikil yang telah dirabnya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya berkata, “Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik.” Sesudah itu, Asma r.ha. berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati.”

Asma’ r.ha. memiliki sifat yang sangat dermawan. Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin.”

Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma r.ha. semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya, “Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya.”

Kamis, 22 Mei 2014

Janji Yang Terabaikan




 Ya Allah
Dalam KalamMu Engkau berfirman
“innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi
alshshalaata lidzikrii”
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(Thaahaa : 14)
“wamaa umiruu illaa liya'buduu allaaha mukhlishiina lahu alddiina
hunafaa-a wayuqiimuu shshalaata”
“ Mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas mentaatiNya
semata-mata karena menjalankan agama dan supaya mereka mendirikan
shalat” ( Al-Bayyinah: 5)

Dan dalam sholatku aku berucap
” inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbi
al'aalamiina”
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah,
 Rabb semesta alam” (Al-An’am : 162)
Namun apa yang terjadi??
Hamba begitu sering mengingkari janji
Kata-kata tersebut hanyalah sebuah kalimat yang slalu terucapkan
Namun belum seutuhnya terbuktikan

Setiap saat hamba slalu berkata bahwa hamba mencintaiMu
Namun, apakah hamba benar-benar tlah mencintaiMu?
Apakah hamba sudah benar menjalani perintahMu?
Sudahkah hamba ikhlas melakukan semua itu karnaMu?
Apakah hamba lebih mendahulukanMu daripada yang lain??
Apakah yang kulakukan selama ini aku anggap sebagai kewajiban semata?

Ku tertegun ketika membaca dalam Al-Qur’an Engkau berfirman
“aqimi alshshalaata liduluuki alsysyamsi ilaa ghasaqi allayli waqur-aana
 alfajri inna qur-aana alfajri kaana masyhuudaan”
“Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam
dan laksanakan pula sholat subuh. Sungguh sholat subuh itu disaksikan
oleh malaikat” (Al-Isra’ : 78)
Dan perasaan takut dan gelisah pun muncul ketika membaca firmanMu
“fawaylun lilmushalliina, alladziina hum 'an shalaatihim saahuuna”
“ Maka celakalah orang-orang yang sholat yaitu orang-orang yang lalai
terhadap sholatnya” ( Al Ma’uun: 4-5)

Ya Rabbi…
Aku tersungkur menangis dihadapanMu
Betapa banyak dosa yang hamba lakukan
Karna begitu lemahnya aku
Yang belum mampu menepati janji dan memikul amanah dariMu
Begitu seringnya hamba melalaikan panggilanMu
Ketika seruan adzan memanggilku
Mengajak untuk menghadap kepadaMu
Namun apa yang kulakukan?
Aku mengabaikan panggilanMu
Aku masih larut dalam urusanku
Aku sering mengundur-undur waktu untuk bertemu denganMu
Kadang ku tutup telingaku, ku terus pulas dalam tidurku

Ya Allah
Tangisanku semakin menjadi ketika mengetahui ungkapan hatiMu
“ Hai anak Adam, Aku menyuruhmu tetapi kamu berpaling, dan Aku
melarangmu tetapi kamu mengindahkan, dan Aku menutupi
(kesalahan-kesalahan)mu tetapi kamu tambah berani, dan Aku membiarkanmu
dan kamu tidak mempedulikan Aku”.
“Wahai orang yang esok hari bila diseru oleh manusia akan menyambutnya,
dan bila diseru oleh Yang Maha Besar ( Allah) dia berpaling dan
mengesampingkan, ketahuilah apabila kamu minta Aku memberimu. Jika kamu
berdoa kepadaKu Aku kabulkan, dan apabila kamu sakit Aku sembuhkan, dan
jika kamu berserah diri Aku memberimu rezki, dan jika kamu mendatangiKu
Aku menerima, dan bila kamu bertaubat Aku ampuni (dosa-dosa)mu, dan Aku
Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih” ( HR Attirmidzi dan Al Hakim)

Ya Rabbi
Air mataku berderai dihadapanMu
Memohon ampunanMu
Betapa hamba sangat malu kepadaMu
Atas segala dosa-dosa yang telah hamba lakukan
Bantulah hamba untuk selalu merindukan berjumpa denganMu
Tegurlah hamba dikala melalaikan panggilanMu
Hanya PadaMu hamba berserah diri

Ya Allah
Ku kan berusaha menjadikan sholat sebagai kebutuhanku
Ku kan berusaha menjalankan perintahMu sesuai dengan firmanMu
“haafizhuu 'alaa alshshalawaati waalshshalaati alwusthaa waquumuu
lillaahi qaanitiina”
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.
Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu' ( Al-Baqarah:
238)
fa-idzaa qadhaytumu alshshalaata faudzkuruu allaaha qiyaaman waqu'uudan
wa'alaa junuubikum fa-idzaa ithma/nantum fa-aqiimuu alshshalaata inna
alshshalaata kaanat 'alaa almu/miniina kitaaban mawquutaan
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di
waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila
kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas
orang-orang yang beriman.” ( An Nisa: 103)

Ya Rabbi…Semoga rahmat, hidayah, dan keampunan dariMu selalu
menyertaiku… aamiin.

Ajal Tidak menunggu Taubatmu

Bersihkanlah dirimu sebelum kamu dimandikan
Berwudhu'lah kamu sebelum kamu diwudhu'kan
Dan solatlah kamu sebelum kamu disholatkan
Tutuplah auratmu sebelum auratmu ditutupkan

Dengan kain kafan yang serba putih
Pada waktu itu tidak guna lagi bersedih
Walaupun orang yang hadir itu merintih

Selepas itu kamu akan diletak di atas lantai
Lalu dilaksanakanlah solat Jenazah
Dengan empat kali takbir dan satu salam
Berserta Fatihah, Selawat dan doa Sebagai memenuhi tuntutan Fardhu Kifayah

Tapi apakah empat kali takbir itu dapat menebus Segala dosa meninggalkan solat sepanjang hidup?
Apakah solat Jenazah yang tanpa rukuk dan sujud Dapat membayar hutang rukuk dan sujudmu yang telah luput?

Sungguh tertipulah dirimu jika beranggapan demikian
Justru ku menyeru Untuk diriku sendiri dan sekalian Muslimin Muslimat
Usunglah dirimu ke tikar sholat Sebelum kamu diusung ke liang lahad
Menjadi makanan cacing dan makanan ulat

Iringilah dirimu ke masjid
Sebelum kamu diiringi ke Pusara
Tangisilah dosa-dosamu di dunia
Kerana tangisan tidak berguna di alam baqa'

Sucikanlah dirimu sebelum kamu disucikan
Sadarlah kamu sebelum kamu disadarkan
Dengan panggilan 'Izrail yang menakutkan
Berimanlah kamu sebelum kamu ditalkinkan
Kerana ianya berguna untuk yang tinggal bukan yang pergi

Beristighfarlah kamu sebelum kamu diistighfarkan
Namun ketika itu istighfar tidak menyelamatkan
Ingatlah di mana saja kamu berada
Kamu tetap memijak bumi Allah
Dan dibumbungi dengan langit Allah
Serta menikmati rezeki Allah

Justru bila Dia menyeru, sambutlah seruan-Nya Sebelum Dia memanggilmu buat kali yang terakhirnya
Ingatlah kamu dahulu hanya setitis air yang tidak berarti Lalu menjadi segumpal darah Lalu menjadi segenggam daging Lalu daging itu membaluti tulang Lalu jadilah kamu insan yang mempunyai arti Ingatlah asal usulmu yang tidak bernilai itu


Allah mengangkatmu menjadi lebih agung dari malaikat Lahirmu bukan untuk dunia
Tapi gunakanlah ia buat melayar bahtera akhirat Sambutlah seruan 'Hayya 'alas Solaah' Dengan penuh rela dan bersedia Sambutlah seruan 'Hayya 'alal Falaah' Jalan kemenangan akhirat dan dunia Ingatlah yang kekal ialah amal Menjadi bekal sepanjang jalan
Menjadi teman di perjalanan Guna kembali ke pangkuan Tuhan

Pada hari itu tiada berguna Harta, tahta, istri dan anak Kalau dahi tak mencecah sejadah di dunia .

Rabu, 21 Mei 2014

Ketika Aku Rindu

Tak bisa aku pungkiri
rasa rindu yang mendera dalam hati
Sekelumit wajah dan bayangan tentang seseorang
Hadir memenuhi rongga-rongga dalam pikiran dan hati

Tak bisa aku menolak
karena ia datang dariNya Tanpa sadar
aku pun menginginkan kehadirannya

Ketika aku rindu…
Kujadikan rasa itu sebagai bait-bait do'a nan indah
Kurangkai dan kuungkapkan kepada Allah
Tentang ungkapan hatiku yang sedang merekah

Ketika aku rindu…
Kujadikan rasa itu sebagai pelembut hati
Ku ajak hati condong kepada Illahi
Agar ia berhati-hati Terhadap angan
nafsu dan bisikan syaitan

Ketika aku rindu…
Kujadikan rasa itu penghias diri
Mencari bekal ilmu dan memperbaiki pribadi
Hingga waktuku menjadi bermanfaat selama menanti

Ketika aku rindu…
Kujadikan rasa ingin bertemu sebagai penyemangat  untuk bertemu denganNya
Kusampaikan segala keluh kesah dan kubiarkan air mata meleleh untukNya
Hingga kusampaikan kata nan paling indah
“Ya Allah, aku memendam rindu, tetapi perjumpaan denganMu lebih aku rindukan”.
Tak bisa aku pungkiri, rasa rindu yang mendera dalam hati Sekelumit wajah dan bayangan tentang seseorang Hadir memenuhi rongga-rongga dalam pikiran dan hati Tak bisa aku menolak, karena ia datang dariNya Tanpa sadar, aku pun menginginkan kehadirannya Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu sebagai bait-bait doa nan indah Kurangkai dan kuungkapkan kepada Allah Tentang ungkapan hatiku yang sedang merekah Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu sebagai pelembut hati Ku ajak hati condong kepada Illahi Agar ia berhati-hati Terhadap angan, nafsu dan bisikan syaitani Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu penghias diri Mencari bekal ilmu dan memperbaiki pribadi Hingga waktuku menjadi bermanfaat selama menanti Ketika aku rindu… Kujadikan rasa ingin bertemu sebagai penyemangat untuk bertemu denganNya Kusampaikan segala keluh kesah dan kubiarkan air mata meleleh untukNya Hingga kusampaikan kata nan paling indah “Ya Allah, aku memendam rindu, tetapi perjumpaan denganMu lebih aku rindukan”.

Read more at: http://mcint4ku.blogspot.com/search/label/Puisi%20Islami
Copyright mcint4ku.blogspot.com (~ Muhasabah Cintaku ~ Dibawah Langit CintaMu ~)
Tak bisa aku pungkiri, rasa rindu yang mendera dalam hati Sekelumit wajah dan bayangan tentang seseorang Hadir memenuhi rongga-rongga dalam pikiran dan hati Tak bisa aku menolak, karena ia datang dariNya Tanpa sadar, aku pun menginginkan kehadirannya Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu sebagai bait-bait doa nan indah Kurangkai dan kuungkapkan kepada Allah Tentang ungkapan hatiku yang sedang merekah Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu sebagai pelembut hati Ku ajak hati condong kepada Illahi Agar ia berhati-hati Terhadap angan, nafsu dan bisikan syaitani Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu penghias diri Mencari bekal ilmu dan memperbaiki pribadi Hingga waktuku menjadi bermanfaat selama menanti Ketika aku rindu… Kujadikan rasa ingin bertemu sebagai penyemangat untuk bertemu denganNya Kusampaikan segala keluh kesah dan kubiarkan air mata meleleh untukNya Hingga kusampaikan kata nan paling indah “Ya Allah, aku memendam rindu, tetapi perjumpaan denganMu lebih aku rindukan”.

Read more at: http://mcint4ku.blogspot.com/search/label/Puisi%20Islami
Copyright mcint4ku.blogspot.com (~ Muhasabah Cintaku ~ Dibawah Langit CintaMu ~)
Tak bisa aku pungkiri, rasa rindu yang mendera dalam hati Sekelumit wajah dan bayangan tentang seseorang Hadir memenuhi rongga-rongga dalam pikiran dan hati Tak bisa aku menolak, karena ia datang dariNya Tanpa sadar, aku pun menginginkan kehadirannya Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu sebagai bait-bait doa nan indah Kurangkai dan kuungkapkan kepada Allah Tentang ungkapan hatiku yang sedang merekah Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu sebagai pelembut hati Ku ajak hati condong kepada Illahi Agar ia berhati-hati Terhadap angan, nafsu dan bisikan syaitani Ketika aku rindu… Kujadikan rasa itu penghias diri Mencari bekal ilmu dan memperbaiki pribadi Hingga waktuku menjadi bermanfaat selama menanti Ketika aku rindu… Kujadikan rasa ingin bertemu sebagai penyemangat untuk bertemu denganNya Kusampaikan segala keluh kesah dan kubiarkan air mata meleleh untukNya Hingga kusampaikan kata nan paling indah “Ya Allah, aku memendam rindu, tetapi perjumpaan denganMu lebih aku rindukan”.

Read more at: http://mcint4ku.blogspot.com/search/label/Puisi%20Islami
Copyright mcint4ku.blogspot.com (~ Muhasabah Cintaku ~ Dibawah Langit CintaMu ~)

Sebelum Aku Menjadi Imam Bagimu



Untukmu Bidadari Sepanjang Hidupku.
Maafkanlah aku..
Yang masih belum mampu,belumlah bisa memenuhi permintaan sederhanamu, karena aku ingat akan dosa-dosaku, dosa yang menggerogoti seluruh hatiku, maka rusaklah segala akal dan prilakuku..
Aku tak ingin membimbingmu jika membimbing diriku saja aku belum siap..
aku merasa belum mampu berada satu shaf di depanmu..
karena ku tak ingin kemunafikan yang menguatkan kakiku untuk berdiri menjadi imammu..

Sebelum aku menjadi imam bagimu, ijinkan aku memperbaiki imanku, agar aku dapat menjadi imam yang baik, yang mampu berdiri kokoh melindungimu dari teriknya kehidupan, yang mampu mengangkatmu saat kita tersungkur jatuh, dan yang mampu menjaga imanku serta imanmu di dalam hidup kita nanti.
Wahai Calon Makmum Terndahku ..
Aku tidak pernah memilihmu untukku,tapi Allah yg memilihmu untukku
aku tidak pernah mengharap mencintaimu,tapi ALLAH telah menundukkan hatiku untuk mencintaimu
aku tidak pernah bermimpi untuk mendampingimu,tapi Allah yg telah menunjukkan jalan hidupku untuk mendampingimu
aku juga tidak pernah berharap menanggung rasa ini atas cintaku padamu.Tapi ALLAH yg telah memberi rasa ini dan harus ku tanggung atasmu
itulah aku adanya. .Tidak pernah kurasa untuk mengatur hatiku sendiri. . .
Karena sang Pemilikku yg telah mengaturku dan menentukan bagaimana ku berbuat. .
Wahai Kekasihku
Terkadang akupun mengkhayalkan hal itu, saat dimana nanti aku menjadi yang halal bagimu, pria yang akan kau cium tangannya saat pergi dan pulang kerja, pria yang akan mengecup keningmu setelah selesai shalat berjamaah, pria yang akan menafkahimu apapun keadaannya.
dan menjalani Susah senangnya bahtera kehidupan bersama ..
Wahai mutiara terindahku
Kelak engkau bukan hanya sekedar kawan sepanjang hidupku. engkau akan menjadi bidadari yang selalu menerangi malamku dan embun dipagi hariku
Maaf bidadariku
Jika aku tak sanggup mengatakan setiap serpihan hati yang aku rasakan..
Dan maaf jika selama ini hanya menyusahkanmu & membuat mu terluka ..