Tampilkan postingan dengan label Pecinta Rosulullah SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pecinta Rosulullah SAW. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Fatimah Az Zahra Binti Muhammad

Wahai Wanita Muslim, marilah kita petik pelajaran dari Putri Rasulullah yang Mulia Fathimah Az-Zahra Rha, mencontoh ketaatannya pada suami dan meresapinya ke dalam Qalbu, mudah-mudahan dapat memberi jalan kepada kita untuk berkumpul dengan Penghulu para wanita di surga yaitu Sayidatina Fathimah Az-Azhra Rha. Aamiin Allahuma Aamiin.


Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.

Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis".

Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis".

Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah".

Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim".

Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.




Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.


Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.

Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang".


Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".

Selasa, 27 Mei 2014

KISAH PERJALANAN ISRA MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW


Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW – Seringkali di kalangan masyarakat kita, dalam mendefinisikan isra dan mi’raj, mereka menggabungkan Isra Mi’raj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dan untuk meluruskan hal tersebut, pada kesempatan ini saya bermaksud mengupas tuntas pengertian isra dan mi’raj, sejarah isra mi’raj nabi muhammad SAW serta hikmah dari perjalanan isra’ mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.
Isra Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.
Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.


Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.


Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.




Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.




Sejarah / Kisah Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW




Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan kerjakan shalat”.
Rasulullahpun turun. Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”
“tidak tahu”, kata Rasul.
“Engkau berada di Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.
Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.


Jibril menurunkan Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”
“Saudaramu para Nabi dan Rasul”.
Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha.


“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).


Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan kebaikan“.
Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.
Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.


“Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.
Kemudian Rasul turun ke Sidratul Muntaha.
Jibril berkata : “Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur”.
Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.




Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.


Mandapat Mandat Shalat 5 waktu


Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.


Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al – Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.


Hikmah Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW


Perintah sholat dalam perjalanan isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).


Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.


Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan mendalam kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani?


Bagaimana dengan mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana dengan mikraj kita sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? Semua dibahas secara gamblang dalam buku ini.


Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.


Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.


Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”.


Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.


Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.


Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”


Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.


Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.









Melihat foto di atas, mungkin banyak dari kita akan segera memilih foto sebelah kanan sebagai Masjid Al-Aqsa. Namun percayalah, foto sebelah kiri yang berupa masjid dengan kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya.


Dewasa ini, telah terjadi banyak kesalahpahaman diantara umat muslim tentang masjid Al-Aqsa yang sebenarnya. Banyak umat muslim maupun non-muslim yang mempublikasikan foto Masjid Al-Aqsa yang salah, tapi yang mengkuatirkan saat ini, kebanyakan umat muslim memajang foto Qubbatus Shakrah (Kubah Batu/ Dome of The Rock) dirumah maupun dikantor mereka dengan sebutan Masjid Al-Aqsa. Ini telah menjadi kesalahan umum di dunia muslim.


Namun tragedi sesungguhnya adalah bahwa kebanyakan generasi muda/ anak-anak muslim (sebagaimana juga muslim dewasa) diseluruh dunia, tidak dapat membedakan antara Masjid Al Aqsa dengan Qubbatus Shakrah (Kubah Batu).


Mengenal Kompleks Masjid Al-Aqsa


Al-Masjid El-Aqsa merupakan nama arab yang berarti Masjid terjauh. 10 tahun setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, beliau melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Jerusalem) dan kemudian menuju langit ketujuh untuk menerima perintah sholat 5 waktu dari Allah, peristiwa ini disebut Isra’ Miraj.


Sebelum turun perintah menjadikan Mekkah sebagai kiblat sholat umat muslim, selama 16 setengah bulan setelah Isra Miraj, Jerusalem dijadikan arah kiblat.





Ketika masih hidup, Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat muslim untuk tak hanya mengunjungi Mekkah tapi juga Masjid Al-Aqsa yang berjarak sekitar 2000 kilometer sebelah utara Mekkah.


Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di Mekkah, dan tempat suci dan tempat terpenting ketiga setelah Mekkah dan Madinah.


Luas kompleks Masjid Al-Aqsa sekitar 144.000 meter persegi, atau 1/6 dari seluruh area yang dikelilingi tembok kota tua Jerusalem yang berdiri saat ini. Dikenal juga sebagai Al Haram El Sharif atau oleh yahudi disebut Kuil Sulaiman. Kompleks Masjid Al-Aqsa dapat menampung sekitar 400.000 jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung sekitar 5.000 jamaah, selebihnya sholat di kompleks yang ber-area terbuka).


Pembangunan kembali kompleks Masjid Al-Aqsa dimulai 6 tahun setelah Nabi wafat oleh Umar Bin Khattab. Beliau menginginkan untuk dibangun sebuah masjid di selatan Foundation Stone (membelakangi Foundation Stone, menghadap selatan/Mekkah). Pembangunan tersebut dilakukan oleh Khalifah Ummayah Abd Al Malik Ibn Marwan dan diselesaikan oleh anaknya Al Walid 68 tahun setelah Nabi wafat dengan diberi nama Masjid Al Aqsha.


Di pusat kompleks Kuil Sulaiman, terdapat Foundation Stone yaitu batu landasan yang dipercaya umat Yahudi sebagai tempat Yahweh menciptakan alam semesta dan tempat Abraham mengorbankan Isaac. Bagi umat Islam batu ini adalah tempat Nabi Muhammad menjejakkan kakinya untuk Mi’raj. Untuk melindungi batu ini, Khalifah Abd Al Malik Ibn Marwan membangun kubah dan masjid polygon, yang kemudian terkenal dengan nama Dome of The Rock (Kubah batu).





Kekeliruan antara Masjid Al-Aqsa dengan Dome of The Rock dan Agenda Israel menghapuskan Masjidil Aqsa





Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama bagi Umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka’bah dengan perintah Allah SWT. Kini berada di dalam kawasan jajahan Yahudi. Dalam keadaan yang demikian, disinyalir pihak Yahudi telah mengambil kesempatan untuk mengelirukan pengetahuan Umat Islam dengan mengedarkan gambar Dome of The Rock sebagai Masjidil Aqsa.
Tujuan mereka hanyalah satu: untuk meruntuhkan Masjidil Aqsa yang sebenarnya dan mendirikan kembali haikal Sulaiman. Saat ini, hanya “Tembok sebelah Barat” yang tersisa dari bangunan kuil atau istana Sulaiman yang masih berdiri, dan pada saat yang bersamaan tempat ini dinamakan “Tembok Ratapan/Wailing Wall” oleh orang Yahudi. Apabila Umat Islam sendiri sudah keliru dan sulit untuk membedakan Masjidil Aqsa yang sebenarnya, maka semakin mudahlah tugas mereka untuk melaksanakan rencana tersebut, karena bila Masjid Al-Aqsa diruntuhkan, kebanyakan umat tidak akan menyadarinya.




1. Terdapat beberapa kekeliruan antara Masjidil Aqsa Apabila disebut tentang Masjidil Aqsa di dalam media lokal maupun internasional, foto The Dome of The Rock-lah yang ditampilkan. Alasannya adalah untuk mengalihkan masyarakat umum yang merupakan siasat Israel. Tinjauan ini diperoleh saat saya tinggal di USA, dimana saya telah mengetahui bahwa Zionis di Amerika telah mencetak dan mengedarkan foto tersebut dan menjualnya kepada orang arab dan Muslim. Kadangkala dijual dengan harga yang murah bahkan kadang diberikan secara gratis agar Muslim dapat mengedarkannya dimana saja. Baik dirumah maupun kantor.


Hal ini meyakinkan saya bahwa Israel ingin menghapuskan gambaran Masjid Al-Aqsa dari ingatan umat Islam supaya mereka dapat memusnahkannya dan membangun kuil mereka tanpa ada publikasi. Bila ada yang membangkang atau memprotes, maka Israel akan menunjukkan foto The Dome of The Rock yang masih utuh berdiri, dan menyatakan bahwa mereka tidak berbuat apa-apa. Siasat yang sungguh pintar! Saya juga merasa amat terperanjat ketika bertanya kepada beberapa rakyat arab, Muslim, bahkan rakyat Palestina karena mendapati mereka sendiri tidak dapat membedakan antara kedua bangunan tersebut. Ini benar-benar membuatkan saya merasa kesal dan sedih karena hingga kini Israel telah berhasil dalam siasat mereka.
Demikianlah, dengan kondisi yang mengkuatirkan ini, kita sebagai muslim hendaklah turut membantu menyebarkan informasi yang benar kepada saudara kita dan dunia. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari distorsi informasi lebih jauh yang akhirnya akan merugikan umat bila tidak disikapi dengan baik.


Wallahua’lam.

Senin, 26 Mei 2014

KETIKA CINTA BERBUAH DILEMA


Suatu hari Fatimah binti Rasulullah Saw, berkata kepada Sayidina Ali,
suaminya. "Wahai kekasihku, sesunguhnya aku pernah menyukai seorang pemuda ketika aku masih gadis dulu." "O ya," tanggap Sayidina Ali dengan wajah sedikit memerah. "Siapakah lelaki terhormat itu, dinda?" "Lelaki itu adalah engkau, sayangku," jawabnya sambil tersipu, membuat sayidina Ali tersenyum dan semakin mencintai isterinya.
Percakapan romantis Siti Fatimah dengan Sayidina Ali di atas mungkin sudah menjadi hal biasa bagi para suami isteri. Tetapi tidak bagi mereka yang belum menikah. Percakapan-percakapan romantis yang sering ditemukan dalam buku-buku pernikahan itu sungguh sangat imajinatif bagi para lajang yang sudah merindukan pernikahan, sekaligus juga misteri, apakah ia bisa seromantis Siti Fatimah dan Sayidina Ali?
Alangkah bahagianya, seorang pemuda yang sejak lama memimpikan obrolan-obrolan romantis akhirnya sampai di terminal harapan, sebuah pernikahan suci. Apa yang selama

ini menjadi imajinasinya saat itu akan ia ungkapkan kepada isterinya. "Wahai kekasihku, ada satu kata yang dari dulu terpenjara di hatiku dan ingin sekali kukatakan kepadamu, aku mencintaimu."
Tetapi, kebahagiaan ini hanya milik mereka yang telah dikaruniai kemampuan untuk mengikat perjanjian yang berat (mitsaqan ghalidha), pernikahan itu. Bagi mereka yang masih harus melajang, semuanya masih hanya mimpi yang terus menggoda.
Terkadang, ada pemuda yang tidak kuat melawan godaan imajinasinya. Keinginan untuk mengungkapkan cinta itu tiba-tiba sangat besar sekali. Tetapi kepada siapa perasaan itu harus diungkapkan? Sementara isteri belum punya, kekasih pun tidak ada. Karena kata pacaran sudah lama dihapus dalam kamus remajanya. Tapi, dorongan itu begitu besar, begitu dahsyat.
Awalnya, kuat. Sampai tibalah sebuah perjumpaan. Sebuah rapat koordinasi di organisasi kemahasiswaan atau dalam tugas kelompok dari sekolah telah mempertemukan dua pesona. Imajinasi itu kembali menari-nari. "Nampaknya, dibalik jilbabnya yang rapi ia adalah gadis yang kuimpikan selama ini." "Oh, ketegasannya sesuai dengan penampilannya yang kalem, dia mungkin yang kuharapkan." Dan cinta itu hadir.
Tetapi, sudahkah saatnya cinta itu diucapkan? Padahal mengikat perjanjian yang berat belum sanggup dilakukan. Lalu apa yang harus dilakukan ketika dorongan untuk mengatakan perasaan semkain besar, teramat besar? Hingga perjumpaan dengannya jadi begitu mengasyikkan; menerima sms-nya menjadi kebahagiaan; berbincang dengannya menjadi kenikmatan; berpisah dengannya menjadi sebuah keberatan; ketidakhadirannya adalah rasa kehilangan.
Indah. Tapi ini adalah musibah! Interaksi muslim dan muslimah yang semakin longgar telah menggiring mereka kepada dua dinding dilema yang semakin menyempit dan begitu menekan. Cinta terlanjur hadir. Meski indah tapi bermasalah. Mau menikah, persiapan belum cukup atau kondisi belum mendukung. Menunggu pernikahan, seminggu saja serasa setahun. Melepaskan dan memutuskan komunikasi, cinta terlanjur bersemi. Menjalani interaksi seperti biasa, semuanya membuat hati semakin merasa bersalah.

Apa yang bisa dijadikan solusi? Jawabannya akan sangat panjang lebar jika yang dijadikan landasan adalah realita dan logika. Tetapi, marilah kita bicara dengan nurani dan keimanan, agar semua bisa terselesaikan dengan cepat dan tuntas.
Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya? Masihkah memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor satu dan satu-satunya? Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa mengeliminir cinta kepada seseorang yang telah menjauhkan dari keridhaan-Nya. Cinta macam apa yang menjauhkan diri dari keridhaan Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnya membuahkan benci Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya?
Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah ataukah "dia"?
"Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!" (al-Hadits)
Wallahu a'lam.

Minggu, 25 Mei 2014

Asma' binti Abu Bakar

Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
----------

Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
Suatu waktu, ketika Rasullah saw. dengan Abu Bakar r.a. telah memerintah Zaid r.a. dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.

Asma, r.ha. berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma r.ha. – lahirlah putra pertamanyam yakni Abdullah bin Zubair r.a.

Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya.

Dalam sebuah riwayat dari Bukhari dicertakan bahwa Asma’ r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,“Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. AKulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebtu. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.

Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhada Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.”

Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ r.ha., memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.

Ketika Abu Bakar ash-shidiq r.a. berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah saw. Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar r.a. yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma r.ha. dan Aisyah r.ha. agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, “Aku telah menduga bahwa Abu Bakar r.a. telah menyebabkalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian.”

Menanggapi perkataan kakeknya, Asma r.ha. berkata, “Tidak, tidak, wahai kakek. Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami.” Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya untuk merabanya. Kakeknya mengira bahwa kerikil yang telah dirabnya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya berkata, “Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik.” Sesudah itu, Asma r.ha. berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati.”

Asma’ r.ha. memiliki sifat yang sangat dermawan. Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin.”

Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma r.ha. semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya, “Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya.”

Selasa, 20 Mei 2014

Isra’ Dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Pendahuluan
Peristiwa isra’ dan mi’raj merupakan salah satu mukjizat Rasulullah saw[1] yang juga sekaligus ujian keimanan bagi umat Islam. Masih tetap berimankah setelah mendengar peristiwa itu atau justru menjadi murtad. Peristiwa isra’ dan mi’raj secara logika biasa pada masa itu memang menimbulkan berbagai keraguan yang menguji keimanan. Akan tetapi jika dasar keimanannya memang kuat, maka dapat dengan mudah mengimani peristiwa tersebut, karena bagi Allah SWT, segala sesuatu itu mungkin, Allah yang menciptakan dan mengendalikan seluruh alam semesta.[2]
Peristiwa agung tersebut diperingati setiap tahun di negeri kita, Indonesia. Bahkan tanggal 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional. Untuk itu, mungkin tidaklah berlebihan, jika tanggal tersebut dijadikan oleh para tokoh nasional pada menjelang kemerdekaan RI untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia sebagai bentuk pengagungan pada peristiwa tersebut. Namun demikian, bagaimanakah pemahaman yang benar terhadap peristiwa tersebut? Untuk menjawabnya, tulisan ini mencoba mengkaji ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan isra’ dan mi’raj beserta pandangan para ulama yang mu’tabar.

Isra’ dan Mi’raj dalam al-Qur’an
Di dalam QS. al-Isrâ’[17] :1 Allah menjelaskan tentang isra’:

سُبْحَانَ الَّذِى أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِى بَارَكْنَا لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّهُ هُوَالْسَمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Isrâ [17]: 1)
Informasi yang kita peroleh dari ayat tersebut di atas adalah bahwa Allah telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam. Yang dimaksud dengannya ‘abdihi (hamba-Nya) adalah Rasulullah saw, dalam hal ini tidak ada perbedaan di kalangan mufassir. Kata ‘abdihi itu -bagi sebagian mufassir- sekaligus juga menunjukkan bahwa yang di-isra’-kan itu melibatkan ruh dan jasad beliau.[3] Namun hakikatnya hanya Allah yang tahu.
Kata al-isrâ’ sesungguhnya mengandung pengertian perjalanan di malam hari. Berbeda dengan safar yang maknanya lebih umum. Ketika disebutkan kata layl[an] (malam hari), maka berarti sebagai ta’kîd (penegas). Ini menunjukkan makna bahwa tempo perjalanan isra’ itu singkat yaitu hanya sebagian waktu malam.
Tujuan perjalanan isra’ itu dijelaskan dengan kata: linuriyahu min âyâtinâ (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami). Kata âyâtinâ adalah berbagai keajaiban yang menjadi tanda kekuasaaan dan kebesaran Allah SWT, di bumi dan di langit. Ditambahkannya kata min sebelum âyâtinâ adalah li al-tab’îdh (untuk menunjukkan sebagian), berarti tanda yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw itu hanya sebagian saja, tidak seluruhnya. Di antaranya adalah yang disebutkan oleh berbagai hadits sahih tentang perjalanan isra’ dan mi’raj.
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. al-Najm:7-18,

وَهُوَباِلْأُفُقِ الْأَعْلىَ (٧) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (٨) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (٩) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (١٠) مَا كَذَبَ اْلفُؤَادُ مَا رَأَى (١١) أَفَتُمَارُوْنَهُ عَلَى مَايَرَى (١٢) وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ اْلمُنْتَهَى (١٤) عِنْدَهَا جَنَّةُ اْلمَأْوَى (١٥) إِذْيَغْشَى الْسِّدْرَةَ مَايَغْشَى (١٦) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (١٧) لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِهِ اْلكُبْرَى (١٨)

“Sedang Dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidrat al-Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidrat al-Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS al-Najm [53]: 7-18)
Sidrat al-Muntaha secara harfiah berarti tumbuhan sidrah yang tak terlampaui yang berada di langit ke enam atau tujuh, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidrat al-Muntaha itu. Akan tetapi secara jelas dikatakan oleh Qurtubi bahwa hadits tentang itu sahih dari Bukhari.[4]

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ (١٩) ذِىْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِىْ الْعَرْشِ مَكِيْنٍ (٢٠) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِيْنٍ (٢١) وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍ (٢٢) وَلَقَدْ رَءَاهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِيْنِ (٢٣) وَهُوَ عَلَى اْلغَيْبِ بِضَنِيْنٍ (٢٤

“Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila, dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS al-Takwir [81]: 19-23).
Beberapa ayat tersebut di atas menggambarkan secara jelas bahwa isra’ dan mi’raj Rasulullah saw diabadikan dalam al-Qur’an, ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi dan wajib bagi kita untuk mempercayainya.

Kisah Isra’ dan Mi’raj dalam al-Hadits
Kejadian-kejadian sekitar isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Namun harus diakui bahwa keterangan seputar isra’ mi’raj penuh dengan misteri, rahasia, teka teki, dan kontroversi.[5] Tentang kebenaran yang sejatinya seperti apa, hanya Allah dan Rasululllah yang paling tahu. Hal penting yang pasti disepakati bahwa isra’ dan mi’raj adalah benar terjadi dan merupakan mukjizat Rasul yang wajib umat Islam beriman kepadanya. Menurut Tafsir al-Qurtuby, lebih kurang ada 20 sahabat yang meriwayatkan tentang isra’, semua penulis kitab hadits mencantumkan tentang hadits isra’. Menurut dia, kebanyakan haditsnya mutawatir dan shahih, diantaranya yang diriwayatkan Anas Bin Malik.[6]
Di antara cerita yang diceritakan dalam hadits adalah sebagai berikut:

رواية أنس، رضي الله عنه، عن مالك بن صَعْصَعَة:
قال الإمام أحمد: حدثنا عفان، حدثنا هَمَّام، قال: سمعت قتادة يحدث عن أنس بن مالك: أن مالك بن صعصعة حدثه: أن نبي الله صلى الله عليه وسلم حدثهم عن ليلة أسري به، قال: “بينما أنا في الحطيم -وربما قال قتادة: في الحجر-مضطجعًا إذ أتاني آت” فجعل يقول لصاحبه الأوسط بين الثلاثة، قال: “فأتاني فقدّ -وسمعت قتادة يقول: فشق-ما بين هذه إلى هذه”. وقال قتادة: فقلت للجارود وهو إلى جنبي: ما يعني؟ قال: من ثغرة نحره إلى شِعْرته، وقد سمعته يقول: من قَصَّته إلى شِعْرَته قال: “فاستخرج قلبي” قال: “فأتيت بطست من ذهب مملوء إيمانًا وحكمة فغسل قلبي ثم حشى، ثم أعيد. ثم أتيت بدابة دون البغل وفوق الحمار أبيض” قال: فقال الجارود: وهو البراق يا أبا حمزة؟ قال: نعم، يقع خطوه عند أقصى طرفه. قال: “فحملت عليه، فانطلق بي جبريل، عليه السلام، حتى أتى بي إلى السماء الدنيا، فاستفتح فقيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: أوقد أرسل إليه؟ قال: نعم. فقيل: مرحبًا به، ولنعم المجيء جاء” قال: “ففتح  فلما خلصت، فإذا فيها آدم، عليه السلام، فقال: هذا أبوك آدم، فسلم عليه، فسلمت عليه، فرد السلام، ثم قال: مرحبًا بالابن الصالح والنبي الصالح. ثم صعد حتى أتى السماء الثانية، فاستفتح فقيل: من هذا؟ قال : جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد قيل  : أوقد  أرسل إليه؟ قال: نعم. قيل: مرحبًا به ولنعم المجيء جاء”، قال: “ففتح، فلما خلصت، فإذا يحيى  وعيسى وهما ابنا الخالة. قال: هذا يحيى وعيسى، فسلم عليهما. قال: فسلمت فردا السلام ثم قالا  مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح.        ثم صعد حتى أتى السماء الثالثة فاستفتح، فقيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: أوقد أرسل إليه؟ قال: نعم. قيل: مرحبًا به ولنعم المجيء جاء”. قال: ففتح  فلما خلصت، فإذا يوسف  ، عليه السلام، قال: هذا يوسف  قال: “فسلمت عليه، فرد السلام ثم قال: مرحبًا بالأخ الصالح والنبي الصالح.ثم صعد حتى أتى السماء الرابعة، فاستفتح، فقيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟  قال: محمد. قيل: أوقد أرسل إليه؟ قال: نعم. قيل: مرحبًا به، ولنعم المجيء جاء” قال: “ففتح فلما خلصت فإذا إدريس، قال: هذا إدريس فسلم عليه”. قال: “فسلمت عليه. فرد السلام ، ثم قال: مرحبًا بالأخ الصالح والنبي الصالح”. قال: “ثم صعد حتى أتى السماء الخامسة فاستفتح، فقيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: أوقد أرسل إليه؟ قال: نعم. قيل: مرحبًا به ولنعم المجيء جاء”. قال: “ففتح، فلما خلصت، فإذا هارون، عليه السلام، قال: هذا هارون فسلم عليه. قال: فسلمت عليه فرد السلام  ، ثم قال: مرحبًا بالأخ والنبي الصالح”. قال: “ثم صعد حتى أتى السماء السادسة فاستفتح، فقيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: أوقد أرسل إليه؟ قال: نعم. قيل: مرحبًا به ولنعم المجيء جاء. ففتح، فلما خلصت، فإذا أنا بموسى، قال: هذا موسى، عليه السلام، فسلم عليه، فسلمت عليه، فرد السلام ثم قال: مرحبًا بالأخ الصالح والنبي الصالح”. قال: “فلما تجاوزته بكى. قيل له: ما يبكيك؟ قال: أبكي لأن غلامًا بعث بعدي، يدخل الجنة من أمته أكثر مما يدخلها من أمتي”. قال: “ثم صعد حتى أتى السماء السابعة فاستفتح، قيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: أوقد أرسل إليه؟ قال: نعم. قيل: مرحبًا به ولنعم المجيء جاء”. قال: “ففتح، فلما خلصت، فإذا إبراهيم، عليه السلام. فقال: هذا إبراهيم، فسلم عليه”. قال: “فسلمت عليه، فرد السلام ، ثم قال: مرحبًا بالابن الصالح والنبي الصالح”. قال: ثم رفعت إلي سدرة المنتهى فإذا نبقها مثل قِلال هَجر، وإذا ورقها مثل آذان الفيلة، فقال: هذه سدرة المنتهى”. قال: “وإذا أربعة أنهار: نهران باطنان ونهران ظاهران، فقلت: ما هذا يا جبريل؟ قال: أما الباطنان فنهران في الجنة، وأما الظاهران فالنيل والفرات”. قال: ثم رفع إلي البيت المعمور. قال قتادة: وحدثني الحسن، عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه رأى البيت المعمور يدخله كل يوم سبعون ألف ملك، ثم لا يعودون فيه.
ثم رجع إلى حديث أنس [قال: "ثم] أتيت بإناء من خمر وإناء من لبن وإناء من عسل”. قال: “فأخذت اللبن، قال: هذه الفطرة وأنت عليها وأمتك”. قال: “ثم فرضت الصلاة خمسين صلاة كل يوم”. قال: “فنزلت حتى انتهيت إلى موسى، قال  ما فرض ربك على أمتك؟” قال: “قلت خمسين صلاة كل يوم. قال: إن أمتك لا تستطيع خمسين صلاة، وإني قد خبرت الناس قبلك وعالجت بني إسرائيل أشد المعالجة، فارجع إلى  ربك فاسأله التخفيف، عن أمتك “. قال: “فرجعت فوضع عني عشرًا، قال: فرجعت إلى موسى، فقال: بم أمرت؟ قلت: بأربعين صلاة كل يوم. قال: إن أمتك لا تستطيع أربعين صلاة كل يوم، وإني قد خبرت الناس قبلك وعالجت بني إسرائيل أشد المعالجة، فارجع إلى ربك فاسأله التخفيف لأمتك. قال: فرجعت فوضع عني عشرًا أخر. فرجعت إلى موسى فقال: بم أمرت؟ فقلت: أمرت بثلاثين صلاة. قال: إن أمتك لا تستطيع ثلاثين صلاة كل يوم، وإني قد خبرت الناس قبلك، وعالجت بني إسرائيل أشد المعالجة، فارجع إلى ربك فاسأله التخفيف لأمتك”. قال: “فرجعت فوضع عني عشرًا أخر، فرجعت إلى موسى فقال: بم أمرت؟ قلت: بعشرين صلاة كل يوم. فقال: إن أمتك لا تستطيع لعشرين صلاة كل يوم، وإني قد خبرت الناس قبلك، وعالجت بني إسرائيل أشد المعالجة، فارجع إلى ربك فاسأله التخفيف لأمتك”. قال: “فرجعت فوضع عني عشرًا أخر، فرجعت إلى موسى فقال: بم أمرت؟ فقلت: أمرت بعشر صلوات في كل يوم. فقال: إن أمتك  لا تستطيع لعشر صلوات كل يوم، وإني قد خبرت الناس قبلك، وعالجت بني إسرائيل أشد المعالجة، فارجع إلى ربك فاسأله التخفيف لأمتك”. قال: “فرجعت فأمرت بخمس صلوات كل يوم، فرجعت إلى موسى فقال: بم أمرت؟ فقلت: أمرت بخمس صلوات كل يوم. فقال: إن أمتك لا تستطيع لخمس صلوات كل يوم وإني قد خبرت الناس قبلك وعالجت بني إسرائيل أشد المعالجة، فارجع إلى ربك فاسأله التخفيف لأمتك”. قال: “قلت: لقد  سألت ربي [عز وجل] حتى استحييت، ولكن أرضى وأسلم. فنفذت، فناداني مناد: قد أمضيت فريضتي وخففت عن عبادي”.
وأخرجاه في الصحيحين من حديث قتادة، بنحوه[7]  .

Inti dari al-Hadits yang cukup panjang tersebut  adalah sebagai berikut, riwayat Anas bin Malik, pada malam dijalankanannya Rasulullah saw dari masjid al-Haram datanglah kepadanya 3 orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di masjid al-Haram. Kemudian berkatalah orang yang pertama, “Siapakah ini? Kemudian orang kedua menjawab, “Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kamunya).” Setelah itu berkatalah orang ketiga, “Ambillah orang terbaik itu.” Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka itu, sehingga mereka datang kepada Nabi di alam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedang hatinya tidak tidur. Demikianlah para Nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu, rombongan tadi tidak berbicara sedikitpun kepada Nabi sehingga saatnya mereka membawa Nabi dan meletakannya di sekitar sumur zam-zam. Kemudian Jibril-lah di antara mereka yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air zam-zam dengan menggunakan tanganya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa talam yang terdapat di dalamnya bejana emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu membubuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya. Kemudian naik menuju ke langit dunia.
Menurut berbagai riwayat, ketika itu Nabi menaiki Buraq. Ketika Nabi tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, “Bukalah.” Penjaga langit itu bertanya, “Siapakah ini?” Ia (Jibril) menjawab, “Ini Jibril.” Penjaga langit itu bertanya, “Apakah Anda bersama seseorang?” Ia menjawab, “Ya, aku bersama Muhammad saw.” Penjaga langit itu bertanya, “Apakah dia diutus?” Ia menjawab, “Ya, ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi saw bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Bayt al-Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidrat al-Muntaha. Dari Sidrat al-Muntaha didengarnya kalam-kalam (pena). Dari Sidrat al-Muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia sungai Effrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam al-Qur’an surat al-Najm. Di Sidrat al-Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi saw meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Hadis tentang isra’ dan mi’raj dari riwayat Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari selain dari Sa’sa’ah ada yang dari Abu Dzar. Sedangkan hadis riwayat Anas bin Malik tentang isra’ dan mi’raj yang lain dari Ubay bin Ka’ab al-Anshari diriwayatkan Imam Ahmad.[8] Secara umum, ringkas ceritanya hampir sama. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang juga relatif sama, berbeda urutan saja.
Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis isra’ dan mi’raj dari Jabir Bin Abdullah dan Huzaifah bin al-Yaman r.a. yang derajatnya hadits hasan.  Substansi isi haditsnya lebih sedikit, di antaranya cerita tentang kendaraan buraq dan kewajiban shalat, tidak sampai tentang bertemu para Nabi terdahulu.[9]
Sedangkan Imam Baihaqi meriwayatkan hadits isra’ dan mi’raj dari Abi Sa’id Sa’d bin Malik dan Abdullah bin Mas’ud yang juga menceritakan tentang kendaraan Nabi yang disebut Buraq, tentang naik ke langit beberapa tingkat berikut pertemuan dengan para Nabi terdahulu, dan perintah menjalankan shalat. [10]
Sedangkan Imam Turmuzi meriwayatkan hadits isra’ dan mi’raj dari Saddad bin Aus yang juga menceritakan tentang kendaraan Nabi yang disebut Buraq, dan tentang Nabi shalat di Bayt Lahm.[11] Menurut Imam Ibnu Kasir, tentang Nabi melaksanakan shalat di Bayt Lahm adalah hadits munkar.
Cukup banyak riwayat hadits tentang isra’ dan mi’raj, namun hadits yang menurut Syekh al-Albani adalah tidak sah adalah yang memuat hal-hal sebagai berikut:
  1. Shalat sebelum isra mi’raj
  2. Isra dengan pakaian mutiara dan pelana emas
  3. Shalat di tempat didirikannya Masjid Damaskus
  4. Nabi-nabi yang meninggal shalat selama empat puluh hari di kuburnya
  5. Jibril berisyarat dengan jarinya sehingga terbelahlah batu
  6. Tiang-tiang putih seperti permata untuk al-Kitab
  7. Gambaran azab orang yang disiksa di neraka yang diperlihatkan kepada rasul saat mi’raj, azab bagi pemakan riba, azab bagi pezina, pengumpat, dan pencela, azab bagi pencaci makan
  8. Adanya tulisan di bawah Arsy tentang Ali bin Abi Thallib
  9. Adanya tulisan di pintu surga
  10. Fathimah berasal dari buah pohon surga
  11. Asal-usul mawar
  12. Jibril mengimami Rasulullah ketika shalat[12]
Penutup
Berdasarkan paparan singkat tersebut di atas, nyatalah bahwa hakikat perjalanan isra’ mi’raj itu hanya Allah dan Rasul yang tahu, karena nyatanya informasi dari al-Qur’an dan al-Hadis tidak sampai detail. Sehingga ilmu manusia tak dapat menjabarkan hakikat perjalanan isra’ mi’raj secara pasti. Dalam QS. al-Isra’[17]: 85 Allah menegaskan bahwa manusia diberi ilmu sedikit sekali. Oleh karena itu, hanya dengan iman, kita mempercayai bahwa isra’ dan mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah saw. Mungkin itulah skenario Allah untuk menguji keimanan hamba-hamba-Nya. Hal yang jelas dan pasti, bahwa Allah menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah saw melalui peristiwa isra’ dan mi’raj. Ini menunjukkan kekhususan dan keistimewaan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat harus dilakukan oleh setiap muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit, dan harus tepat waktu, tanpa pandang bulu. Wallahu A’lam bi al-Shawwâb.[]
MARÂJI
Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil, tt, Dar Taybah
Al-Ghazali, Syaikh Muhammad, Studi Kritis Atas Hadits Nabi saw antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual (terjemah). (Bandung: Mizan, 1996)
Al-Qurtubi, Syamsuddin, Al-jami’ li Ahkam al-Quran yang dikenal Tafsir al-Qurtuby, Riyad: Dar Alamul Kutub, 2003.
Al-Syaukani, Muhammad, Fathul Qadir
Al-Thabari, Abu Ja’far,  Jami’al Bayan fi Tafsir al-Quran (dikenal Tafsir al-Tabari), Muassasah Risalah, 2000.
Bakr, Abdurrahman Bin Abi. tt. Tafsir al-Dar al-Mansur fi Ta’wil Bil Ma’sur.
Katsir, Abi al-Fida Ismail bin Umar Ibn. 2001. Tafsir Ibnu Kasir,  Jilid 3. Dar al-Salam li al-Nasyr wa al-Tauzi’: Riyadh
Khudlari, Syekh Muhammd, Tarikh Tasyri’ al-Islamy, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah.
Tp. Al-Quran al-karim Ma’al Tafsir- al-Ishdar al-Khamis, Mauqi’ Ruhul Islam.
tp. Mausu’ah hadis Nabawi al-Syarif, Al-Shahah wa al-Sunan wa al-Masanid, Berisi Shahih Bukhari Muslim, Sunan Turmuzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dll total 20 kitab hadis.
Tim Universitas Islam Indonenesia, Al-Quran dan  Tafsirnya, Yogyakarta; UII, 1995,

* Dosen tetap Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia
[1] Walaupun dalam QS al-Kahfi: 110 dinyatakan bahwa Muhammad adalah manusia biasa, akan tetapi beliau diberi wahyu yang menjadikannya sebagai Nabi dan rasul sehingga memilki keistimewaan yang di antaranya berwujud dimilikinya berbagai mukjizat, salah satunya isra’ dan mi’raj. Lihat M Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: MIzan, 1997), hal. 53
[2] Lihat penjelasan Baiquni terkait peristiwa isra’ dan mi’raj yang menantang IPTEK dalam bukunya. Achmad Baiquni, al-Qur’an, Ilmu Pengnertahuan dan Teknologi. (Yogyakarta: Dana Bhakti wakaf, 1994), hal. 108-117
[3] Lihat al-Qur’an Ma’al-Tafsir yang diterbitkan oleh Mauqi’ Ruhul Islam.
[4] Tafsir al-Qurtubi ketika menjelaskan QS al-Najm: 14
[5] Untuk memahami lebih jauh tentang hadits Nabi, baca buku Syaikh Muhammad al-Ghazali yang diterjemahkan menjadi berjudul Studi Kritis Atas Hadits Nabi saw antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. (Bandung: Mizan, 1996).
[6] Tafsir al-Qurthuby, ketika menafsirkan surat al-Isra’ ayat 1. Al-Quran al-karim Ma’al Tafsir- al-Ishdar al-Khamis, Mauqi’ Ruhul Islam.
[7] Abi al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir Ibnu Kasir,  Jilid 3. (Riyad: Dar al-Salam li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 2001),  hal. 1619-1621
[8] Ibid. h. 1622-1623
[9] Tim Universitas Islam Indonenesia, al-Qur’an dan  Tafsirnya, (Yogyakarta; UII Press, 1995), hal. 518.
[10] Ibid 1625-1628
[11] Ibibd 1625-1628

Jumat, 09 Mei 2014

Birrul Walidain

يَارَبَّنَا يَارَبَّنَا إغْفِرْلَنَا ** وَوَالِدِيْنَا والْمَشَايِخْ أجْمَعِيْن

Duh pangeran kulo nyuwun pangapuro
Kanggo tiyang sepah soho guru kulo
Ugi kangge kulo lan muslim sedoyo
ing mekah madinah lan sak alam dunyo

Duh pangeran kulo nyuwun kesaenan
Kanggo poro putro lan putri harapan
Mugi saget nerusaken perjuangan
Njagi islam lan akidah keimanan




Duh pangeran kulo nyuwun kawelasan
kanggo poro guru kang paring tuntunan
Tuntunan agami soho sesrawungan
Ingkang manfaati ing gesang bebrayan

Mugi gusti ALLAH ngumpulake kito
Ugi tiyang sepah lan guru sedoyo
Sareng nabi lan wong kang sholeh ing surgo
Mugi ALLAH mboten nolak donga kito

Mugi kito sedoyo khusnul khotimah
Ing akhire mongso nalikane pejah
Sholawat lan salam selawase mongso
Mugi katur ing nabi kang nulung kito

Sabtu, 26 April 2014

LAAILAA HA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH.

Ketika ini jiwa ku lepas dari penjelahan.
Menyisr ruang waktu yang selalu jadi hariban.
Ketika bebatu bertasbih memuji tiada henti.
Ketika dedaunan yang gugur helai demi helainya dzikir disetiap tarikan.

Hari ini.
Dimana ketika masa itu rahasia pintu langit tertutup.
Dimana ketika masa itu malaikat malik tersenyum takjub.
Dimana semesta bershalawat kan kekasih sang maha cinta.
Dimana bangsa durjana muram berkeluh kesah tanpa jeda.

Shallu ‘ala Muhammad!

Allahumma shalli wa sallim wa barik alaih.

Salam semesta buat ruh jiwa yang suci.
Salam semerdu zanji buat merahnya suci bayi.
Salam bersedekap khusyuk akan pecahnya tangis.
Telah lahir rahmatan ala'amin penghapus bengis.


Bidadari-bidadari tak henti mengipasi bumi.
Awn berebut teduh menjadi naungan.
Malaikat-malaikat berebut cahaya menyinari.
Selaksa makhluk suci bersenandung shalawat tak terhentikan.


Rebah sudah jiwa dan ragaku kini.
Ketika firmanmu Ya rabb pemilik cinta seutuhnya.
Jelas mengatakan tak kabur syirah sedikitpun.
Jka kau mencintaiku maka cintailah dulu kekasih ku muhammad saw.

Jadikanlah jiwa ini yang layak pepasir pantai dosanya padamu.
Jadikan raga ini yang layak angin berbagai perangai khilafnya pada mu.

Selalu dalam cahaya hidayah mu.
Selalu dalam gengaman syir ahad mu.
Ampuni lah jiwa lemah yang tak luput dari noda.
Betapa nikmat dan adzab yang dirimu beri juga bakal kami pertanggung jawabkan di yaumil hisab kelak.


LAAILAA HA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH.


Rabu, 23 April 2014

AL Huda Indonesia

Bismillahirrahmanirrohim. Alhamdulillah pada hari ini masih diberi kesempatan untuk bisa update lagi ..
Untuk kesempatan kali ini saya akan mengenalkan album terbaru dari AL Huda Indonesia yang sebelumnya telah sukses untuk album pertamanya ( Keksaihku Muhammad ) ..
Untuk Album ke 2 ini,al huda indonesia menamai albumnya ( Syiir K.Syu'udi ) karena didalamnya terdapat sebuah lagu karangan dari beliau Almaghfurlah K.Syu'udi ..makna dan isi yang terkandung dalam syiiran tersebuat adalah.untuk mengingatkan kita untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT,selalu belajar ( menuntut ilmu ),mencari rizki dengan cara yang halal dll ..


Dalam Album ke dua ini berisi 7 buah lagu sholawat ..
yang menurut saya pribadi,sangatlah ajiib .. hehehe

langsung saja ..Berikut daftar Lagu dalam Album Syiir K.Syu'udi ..

1. AL Huda Indonesia ( Syiir K.syu'udi )
Via Mediafire : http://www.mediafire.com/listen/31pp9pbt7her4m7/AL_Huda_Indonesia_Syiir_Kyai_Su'udi.mp3
Via 4shared   : http://www.4shared.com/mp3/wMrLDLjF/al_huda_indonesia_-_syiir_kyai.html
3GP             : http://www.mediafire.com/download/o8gvsealf0kj7ok/AL_Huda_Indonesia_Syi'ir_Kyai_Su'udi.3gp
2.  AL Huda Indonesia ( Sholawat badar )

Via Mediafire :  http://www.mediafire.com/listen/gx5rqguk0k9qegl/AL_Huda_Indonesia_Sholawat_Badar.mp3
Via 4shared   :  http://www.4shared.com/mp3/a9h2HZna/al_huda_indonesia_-_sholawat_b.html
3GP             :  http://www.mediafire.com/download/c1u0lkrajh8todd/AL_Huda_Indonesia_Sholawat_Badar.3gp

3.  AL Huda Indonesia  ( Anal Faqiru )

Via Mediafire : http://www.mediafire.com/listen/84uxkwfbig5qii7/AL_Huda_Indonesia_Anal_Faqiru.mp3
Via 4shared   : http://www.4shared.com/mp3/sN_u2Ev1/AL_Huda_Indonesia_-_Anal_Faqir.html
3GP             : http://www.mediafire.com/download/799gco2nyax9vnc/AL_Huda_Indonesia_Anal_Faqiru.3gp

4. AL Huda Indonesia ( Yaa Ilahi )

Via Mediafire : http://www.mediafire.com/listen/5b7smc87p42aeyy/AL_Huda_Indonesia_Yaa_Ilahi.mp3
Via 4shared   : http://www.4shared.com/mp3/GmTmDBd_/al_huda_indonesia_-_yaa_ilahi.html
3GP             : http://www.mediafire.com/download/4w2ow63hlxn90r7/AL_Huda_Indonesia_Yaa_Ilahi.3gp
5. AL Huda Indonesia ( Yaa Robba Makkah )

Via Mediafire : http://www.mediafire.com/listen/an1jtc5146srdb1/AL_Huda_Indonesia_Yaa_Robba_Makkah.mp3
Via 4shared   : http://www.4shared.com/mp3/0wVxmh26/al_huda_indonesia_-_yaa_robba_.html
3GP             : http://www.mediafire.com/download/298v4cpdl1x768w/AL_Huda_Indonesia_Yaa_Robba_Makkah.3gp

6.  AL Huda Indonesia  ( Allahhu binurihi Tajalla )

Via Mediafire : http://www.mediafire.com/listen/lmot22bzqmnep6v/AL_Huda_Indonesia_Allahhu_Binurihi.mp3
Via 4shared   : http://www.4shared.com/mp3/Ddk4qw-R/al_huda_indonesia_-_allahhu_bi.html
3GP             : http://www.mediafire.com/download/8ljngrzqznvax4g/AL_Huda_Indonesia_Allahu_Binurihi.3gp

7.  AL Huda Indonesia ( Qul - Qul )
Via Mediafire : http://www.mediafire.com/listen/sv07suh21ou0wo4/AL_Huda_Indonesia_Qul_-_Qul.mp3
Via 4shared   : http://www.4shared.com/mp3/-cMgU7rd/al_huda_indonesia_-_qul_-_qul.html
3GP             : http://www.mediafire.com/download/c3m9kt0x0lsmlb4/AL_Huda_Indonesia_Qul_-_Qul.3gp
Kiranya cukup sekian mengenai Album AL Huda Indonesia Vol 2 ini , apabila ada salah pendeskripsian harap dimaklumi karena saya juga manusia biasa yang tak luput dari salah. Terimakasih juga bagi para teman-teman, sahabat yang sudah mempercayakan blog ini sebagai referensi sholawat khususnya untuk daerah Semarang & sekitarnya. Berkomentarlah gak usah segan-segan jika ada yang perlu diertanyakan atau ingin mengomentari tentang album ini. Komentar anda semua sangat membantu dalam kemajuan blog ini. Semoga tetap Istiqomah dalam bersholawat..

 Alahumma Sholli Ala Muhammad ....